Lecehkan Budaya Lawang Sekepeng, Singan Jambung Kalteng Kecam PSHT

Lecehkan Budaya Lawang Sekepeng, Singan Jambung Kalteng Kecam PSHT

PALANGKA RAYA – Lawang Sekepeng merupakan tradisi turun temurun sebagai seni budaya yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan suku Dayak. Dalam tradisi pernikahan / perkawinan Suku Adat Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng), didalamnya mengandung Pilosofi kehidupan serta nilai – nilai luhur. Ketika penganten laki – laki sudah sampai dihalaman rumah mempelai perempuan, maka Pihak Perempuan melakukan penyambutan dihalaman rumah yang sudah dibuat semacam pintu gerbang terbuat dari kayu diberi pelepah daun kelapa, dipasang atau direntangi dengan 3 (tiga) buah benang (lawai) atau tali (Rapia) yang mempunyai makna sebagai Rintangan, halangan, kesialan dalam kehidupan (sial kawe).

Sebelum keduannya menjadi satu keluarga maka harus melewati Lawang Sekepeng sebagai symbol masuk ke dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya di atas ketiga benang itupun dapat diberi bunga – bunga hidup yang mempunyai makna bahwa dalam menjalani kehidupan berumah tangga adanya bunga bunga kehidupan dan menjadi bumbu – bumbu pahit manisnya berumah tangga yang harus dilewati seperti perkelahian yang mungkin terjadi diantara kedua mempelai.

 

Tali dalam Lawang Sekepeng juga mempunyai makna tersirat seperti seperti tali pertama dengan ukuran sebatas dada yang harus diputuskan oleh pihak laki – laki dimana nilai yang terkandung adalah bahwa si lelaki siap membuang egonya dan keangkuhanya demi si isteri, akan menjadi seorang suami yang bijaksana, mampu memimpin keluarga dengan baik. Sedangkan tali kedua dengan ukuran sebatas perut harus diputuskan oleh pihak perempuan yang memiliki nilai bahwa si perempuan sanggup hidup apa adanya, menerima kekurangan dan kelebihan si suami, tidak menjadikan beban hidup atas urusan atas dapur. Si isteri harus memiliki keyakinan pada sang suami bahwa si suami mampu  menghidupinya dan anak – anak mereka. Sedangkan tali ketiga dengan ukuran dibawah pusat yang harus diputuskan bersama – sama oleh keduanya ( pihak laki – laki maupun perempuan ) dengan makna bahwa kedua duanya sepakat mematikan keinginan atau hawa nafsunya kepada orang lain. Hasrat keduanya hanya ditunjukan pada pasangan masing – masing , dengan diputuskannya ketiga tali yang direntangkan dalam Lawang Sekepeng maka putuslah segala rintangan hidup yang merintangi sebagai penghalang dengan harapan kedua mempelai dapat hidup dengan baik, bahagia sampai akhir.

 

Dendiansyah, M.Pd Ketua Perguruan Silat Singa Jambung Kalteng, yang mempunyai silsilah keturunan generasi ketiga dari tokoh pesilat Dayak Kalteng, Bahusin Saung (Bungking), Mahusin Saun (Tinjek) dan Salamat Saun. Dalam rilis menyampaikan keberatan dan mengecam Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), yang mengunakan Lawang Sekepeng pada pesta Pernikahan di Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, Kalteng, baru – baru ini yang telah Viral Beredar di media social, baik Facebook,Youtube, dan Whatshap Group.

 

“Jadi berkaitan dengan hadirnya, pesilat – pesilat luar yang masuk kedalam tradisi budaya Kawin Adat Dayak Kalimantan Tengah, yang tidak mengetahui makna dan tata cara serta kaidah – kaidah dalam lawang sekepeng akan menghilangkan makna Sakral dari Lawang Sekepeng itu sendiri. Kami berharap perguruan lain dalam hal ini PSHT dapat menahan diri untuk tidak masuk terlalu jauh kedalam ranah yang bukan menjadi bagiannya. Sebagaimana yang sedang Viral saat ini di media elektronik, Fb, WA, dan Youtube dapat dilihat pada http://youtube.be/VaWz2_BP2TM, berdurasi dua menit lima puluh satu detik tersebut memperlihatkan pesilat PSHT Rayon Mendawai Kabupaten Katingan melakukan Lawang Sekepeng  tidak menggunakan aturan main didalam Sekepeng orang Dayak, tentu itu menjadi sebuah pelecehan atas tradisi seni budaya dayak.” Jelas Dediansyah, Ketua Perguruan Singa Jambung Kalteng ini.

 

“Tidak ada dan tidak pernah juga dilakukan dalam Sakepeng tali diputuskan dengan kaki sebagaimana yang dilakukan oleh pesilat dari PSHT , tentunya sebagai Ketua Umum Perguruan Silat Tradisional Dayak Kalteng,Singa Jambung berharap kepada Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi, Kabupaten/kota, Damang dan Mantir Adat yang memiliki kewenangan atas Adat istiadat Dayak harus menyingkapi.” Harapnya.

 

Didampingi pengurus lainya, Ari Dewantara, M.Hut (Sekretaris Umum) dan Gayus U. Talajan ( Ketua Harian) akan mengambil sikap atas beredarnya video yang telah viral dimedia social ini, dan akan segera mengirim surat secara resmi kepada DAD Kalteng dan kepada Perguruan PSHT supaya jangan melakukan hal yang sama.

 

“Senin (19/10/20) akan menyurati DAD Kalteng dan Perguruan PSHT , kami tidak ingin budaya adat istiadat suku Dayak rusak oleh oknum tertentu. Kami akan pertahankan , kami akan menjaga dan melestarikan Silat Tradisional Dayak, Kuntau Bangkui diera Globalisasi saat ini tanpa menghilangkan nilai – nilai luhur yang terkandung didalamnya,”tandasnya.

 

“Menghimbau kepada Pimpinan cabang Perguruan Singa Jambung (PSJ) yang ada di beberapa Kabupaten / kota untuk melakukan GETAR SEBUKA (Gerakan Pelestarian Seni dan Budaya Kalimantan Tengah) terkhusus Silat Tradisional (Kuntau Bangkui) agar seluruh masyarakat Dayak pada umumnya sadar dan Kembali mencintai budaya sendiri , sebagai seorang dayak yang pintar harati uka tau manjaga petak danum, seni budaya tuntang agama kea” papar dediansyah.

 

Sementara itu, dari DAD Kalteng saat media ini mencoba menghubungi melalui Whatshap, Kabid Hukum, Letambunan Abel, SH, belum bisa memberi tanggapan atas permasalah ini.

 

(//indra)